The Death

Ini untuk kesekian kalinya aku membayangkan hal itu. Bahwa kematian bagi seseorang bukanlah hal yang dapat diramalkan dan dapat dihindari. Aku sudah sadar sejak dulu, bahwa hal itu dapat datang sewaktu-waktu seperti kejutan yang menyenangkan maupun ketakutan yang mencekam. Tergantung kesiapanmu.

Aku masih ingat, sejak kelas 1 SMP dulu setiap tahunnya aku pasti punya firasat bahwa aku akan mati beberapa waktu lagi. Rasanya benar-benar mencekat, benar-benar tidak tenang. Kalian tau rasanya? Seperti tak mau sendirian dan selalu ingin ditemani terlebih oleh kedua orang tuamu. Hingga mereka pun bergantian menungguiku hingga menjagaku sampai terlelap. 

Bahkan pada suatu saat, aku bisa meminta orangtuaku segera pulang saat mereka baru saja pergi karena firasat yang sangat menggangguku itu. Kenapa aku begitu ketakutan? Karena aku tidak siap. Tidak siap menerima kenyataan bahwa aku akan merasakan neraka sedemikian lamanya sampai tak tahu kapan Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Amal baikku serasa tak akan cukup menutupi semua sikap burukku selama ini.

Hal itu berlanjut satu kali setiap tahunnya hingga aku duduk di kelas 2 SMA. Tak ada firasat lagi setelah itu. Tetapi bencana erupsi merapi 2010 yang lalu membuatku merasakannya lagi. Lagi-lagi takut dan tidak siap. Ramalan kiamat 2012 pun agak setengah-setengah ku percayai dan membuatku agak mengamati apa yang terjadi di bumi ini. Dimana umat manusia mulai berperang lagi antar sesama, berebut kekuasaan, dan materi merupakan barang yang paling dicari. Di lain pihak banyak muncul golongan-golongan baru dari Islam, sejak kapan ada banyak versi seperti itu. Sedih bercampur takut. Seharusnya semua itu menjadi pelajaran bagi kita semua dan marilah berlomba-lomba dalam kebaikan.

Kemudian, malam ini, mulai lagi. Tapi hanya bisa diam disini, merenung. Sejauh ini apa saja yang sudah hamba lakukan untuk menggapai ridha-Mu? Apa saja yang sudah hamba lakukan agar Kau mengampuni dosa-dosa ini paling tidak menguranginya dengan pahala? Tetapi pahala apa saja yang sudah ku lakukan? Cukupkah menghilangkan dosa-dosa itu?

Hening lagi~
Meminta kepada-Mu lagi, meminta waktu. Sedangkan selama ini sesungguhnya Kau telah memberikan semuanya kepadaku tak kurang sesuatu apapun hal-hal yang sangat vital hamba butuhkan. Oksigen, yang walaupun hamba tidak meminta-Mu, Kau berikan padaku secara cuma-cuma dan tidak menutup kemungkinan dapat Kau ambil saat ini juga. 

Hanya kepada-Mu lah hamba menyembah, dan hanya kepada-Mu lah hamba meminta pertolongan~

This entry was posted on Monday, June 4, 2012 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

3 Responses to “The Death”

  1. kupikir cuma aku tonks, ternyata kamu juga, mungkin orang lain juga, i just feel the same way..

    http://www.fahdisme.com/2012/05/mati.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+FahdDjibransBlog+%28Fahd+Djibran%27s+Blog%29

    ReplyDelete
  2. Kadang batas antara hidup dan mati hanya terpaut sepersekian detik, sepersekian milimeter... #justsaying

    ReplyDelete
  3. @amenk: iyaaa, aku juga nih :( kamu sejak dulu kah?

    @mas wisnu:mungkin juga dia seperti bayangan kita~

    ReplyDelete