Sedikit Cerita tentang Syukur

malam ini ingin rasanya lidah ini bercerita tentang rasa syukur...
tapi setelah menengok kanan dan kiri, melongok ke depan dan belakang, hanya udara yang bersamaku dan laptop yang diam terpaku menunggu...

yah, daripada nganggur (padahal ada tugas pengantar komunikasi farmasi -red) saya ingin menulis cerita tentang syukur :)




suatu hari, saya pernah mengeluh kepada Bapak.

Q: Pak, ngecilin paha gimana caranya sih? *berhubung Bapak adalah guru olahraga dulunya*

B: nggak bisa dikecilin, bisanya dikencengin lah. olahraga lari, naik turun tangga...

Q: huooooo *sambil ngliat paha*

B: nggak pede?

Q: hehe *cuma meringis*

dan siang itu, pergilah kami ke rumah simbah yang di wonosari untuk silaturahmi. setelah itu, kami pulang. melewati beberapa perempatan ringroad hingga akhirnya ringroad gejayan. saya seperti biasa melihat-lihat keluar jendela. saya terpaku ke arah itu. ke arah seorang pengemis yang, astaghfirullah, kakinya kecil, sangat kecil hingga tak mampu menopang kuat tubuhnya yang tentu saja lebih besar. tubuhnya yang terkena sengatan matahari ditopang oleh dua buah krug (bener kan namanya? -red). 
sedih rasanya pas itu, teguran Allah nyata sekali dan itu terjadi dalam sehari. bagaimana paginya saya mengeluh dan sorenya diperlihatkan apa yang seharusnya disyukuri lebih dan lebih :| *speechless*. 
bagi para perempuan, apabila kalian tidak percaya diri dengan apa yang telah Allah berikan pada kita, ingatlah bahwa disana masih banyak orang lain yang lebih kurang daripada kita :)

lalu cerita berikutnya...

cerita ini tentang bagaimana kita seharusnya menghargai waktu...
pernah dengar?
  1. Jika Anda ingin mengetahui berapa nilai waktu satu tahun, bertanyalah kepada seorang siswa yang tidak lulus dalam Ujian Akhir Nasional.
  2. Jika Anda ingin mengetahui berapa nilai waktu satu bulan, bertanyalah kepada seoarang ibu yang melahirkan anaknya secara prematur.
  3. Jika Anda ingin mengetahui berapa nilai waktu satu minggu, bertanyalah kepada pemimpin redaksi sebuah majalah mingguan.
  4. Jika Anda ingin mengetahui berapa nilai waktu satu hari, bertanyalah kepada seorang karyawan harian yang menghidupi sepuluh orang anak.
  5. Jika Anda ingin mengetahui berapa nilai waktu satu jam, bertanyalah kepada seorang karyawan pabrik yang memiliki produktifitas tinggi.
  6. Jika Anda ingin mengetahui berapa nilai waktu satu menit, bertanyalah kepada seseorang yang ketinggalan pesawat terbang.
  7. Jika Anda ingin mengetahui berapa nilai waktu satu detik, bertanyalah kepada seseorang yang selamat dari kematian di depan mata.
  8. Jika Anda ingin mengetahui berapa nilai waktu setengah detik, bertanyalah kepada seseorang yang meraih medali perak pada sebuah pertandingan olahraga.
saya pernah mengalaminya, poin ke tujuh, hehe. maaf kalau bapak ibu membaca, tapi ini cerita lama sekali kok dan insyaAllah tidak akan terjadi lagi :)

pas itu, pagi pas berangkat sekolah sepertinya. seperti biasa kenapa saya selalu mepet berangkatnya, haha. sebenarnya nggak perlu tanya kenapa sih :p nah, pas itu, saya ingat sekali, di tikungan yang di bagian itu juga ada jalan lurus di sebelah kanan jalan (posisi di seberang). di tempat itu, mendadak ada bis, kecepatan sedang sedangkan saya kecepatan cukup tinggi. posisi saya ingin menyeberang ke jalan yang tadi saya ceritakan dan yang terpikir di otak saya hanyalah jalan terus, kalau ngerem bisa-bisa masuk ke kolong bis dan entah gimana nasib kamu. dan wuzzzzzzzzzzz, saya selamat sampai seberang bis itu dengan detak jantung yang sangat kencang dan rasa syukur begitu tinggi.

dari situ ya teman-teman, ada dua pelajaran yang bisa kita ambil: berhati-hatilah di jalan saat berkendara dan hargailah waktu kalian, karena satu detik adalah sesuatu yang sangat sangat sangat berharga.


last story~

kesabaran itu sesuatu yang benar-benar wow sekali *bingung mendefinisikan*
ketika saya begitu besar kepala karena saya bisa sabar kepada orang yang orang lain tidak bisa sabar kepadanya, muncul seseorang yang jauh lebih sabar dari saya karena sangat sabar menghadapi dan mengerti saya. thanks for doing that thing, you-know-who :)

This entry was posted on Friday, January 6, 2012 and is filed under ,. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

4 Responses to “Sedikit Cerita tentang Syukur”

  1. Eh, ketemu Qisthi lagi :p

    Beberapa bulan yg lalu, adek sepupuku meninggal. Padahal, dia masih muda banget. Remaja gaul yg sedang menikmati masa mudanya. Mendadak Allah memanggilnya. Sejak saat itulah aku sadar, bahwa kita nggak tahu kapan kita akan dipanggil oleh-Nya. Bisa nanti malam, bisa besok, atau mungkin tahun depan. Wah, hidup ini benar-benar harus dihargai dan disyukuri, ya....

    ReplyDelete
  2. @itheng cemani: apa e mas? haha

    @ditter: meninggalnya kenapa mas? turut berbela sungkawa :| iyaaa kita nggak tau kapan dipanggil, harus dimanfaatkan sebaik2nya selagi bisaaaa

    ReplyDelete
  3. ...there is a tremendous traumatic feeling in my heart whenever I see a vehicle runs so fast...and I pray...Rabb, please, do save him/her and the others, too.

    ReplyDelete