Photo Journalism #1

udah lama banget lah pengen nulis tentang ini tapi belum sempet jadi~
I got this cool knowledge dari seminar photography that I followed with Ade <3
yang ngisi photographer senior kompas, Arbain Rambey.
nah yuk mulai sharing! :D


foto jurnalistik itu apa sih? 
bayangan kita kalau melihat journalist hunting foto itu ya kayak gini. kamera besar-besar dan mahal.


google.com



tetapi kembali ke definisinya, foto jurnalistik adalah foto apapun yang mengandung informasi yang kuat dan bisa merubah banyak hal dan dibuat oleh siapa saja dan dapat diakses oleh siapapun.


sehingga seperti ini juga boleh:


google.com
contohnya itu:
  • beliau kan ngajar juga di salah satu perguruan tinggi di Jakarta dan pernah menugaskan pada mahasiswanya untuk membuat foto jurnalistik. setelah dikumpulkan ada foto yang membuatnya tertarik. gambarnya itu di salah satu tol di jakarta, di pinggirnya banyaaaak banget antena gitu (sayangnya ga nemu fotonya-red). nah beliau masukkin itu ke kompas. eh beberapa hari setelah itu antena disana jadi bersih karena di bakar dan kalo nggak salah jadi kebakar juga tolnya. 
  • ada foto kiriman dari seseorang ke kompas, gambarnya tentang telepon umum gitu dan di depannya banyak banget sampah jadi orang nggak bisa pakai telpon umumnya. lalu sama kompas dimuat, pas jebret tercetak dan beredar subuh-subuh gitu. jam 7nya sampah disitu udah ilang. hahaha ajaib lah foto jurnalistik itu. 

pemuatan foto-foto untuk foto jurnalistik bisa di blog sendiri atau boleh ke media massa yang mau menampung.


terus apa aja sih syaratnya?

  1. Harus pakai digital, pakai film matikalau ini setuju lah yaaa, udah zaman canggih gini, tentu saja pakai digital. kalau pake film mati sudah, apalagi belum terbiasa pakai, kehilangan moment bisa jadi tuh. kamera digital paling aman, motret sebanyak-banyaknya, lihat hasil nanti.
  2. tidak boleh diotak-atik, tapi boleh photoshop. otak-atik dalam hal ini itu menghilangkan sesuatu yang memang seharusnya ada, sehingga dapat menghilangkan ke'real'an foto. photoshop diperbolehkan untuk menyesuaikan value untuk dicetak.
  3. asli warna. wajib lho ini, pada kenyataannya yang kita potret adalah sesuatu yang berwarna.
 yang penting apa saja?

  1. content nomor satu, mutu nomor sekian. yang dilihat pertama adalah isi dari foto tersebut, bagus nggak sih, oke nggak sih. kualitas pengambilan foto dengan media apa itu dilihatnya nomor sekian.
  2. cek and ricek. dipastikan dulu berita yang ada di foto itu benar atau tidak, jangan asal mengambil foto dan mengambil kesimpulan bahwa berita yang kalian ambil sama seperti persepsi awal kalian. bisa dituntut lhooo~
  3. tidak boleh memvonis/menghakimi/memihak manapun. contohnya itu tentang foto kasus-kasus yang sampai ke sidang gitu, seharusnya terdakwa tidak boleh di foto dari depan sebelum terbukti bersalah.
  4. foto berbicara. fotografer sebelumnya harus tau dulu apa yang di foto jadi bisa memilih angle yang sesuai sehingga berita tersampaikan karena beda angle, beda cerita.
  5. mendapatkan foto terbaik untuk dimuat, tak harus kamera sendiri. inilah kenyataan dalam foto jurnalistik. ketika foto yang kita ambil tidak merepresentasikan berita yang ada, mendapatkan foto pengganti kepada seseorang yang fotonya lebih berbicara diperbolehkan. 



nah, udah dapat gambaran kan yaaa?
untuk sesi ini sekian dulu yaaa, mau siap-siap kuliah, hehe

-to be continued :)

This entry was posted on Tuesday, May 1, 2012 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

3 Responses to “Photo Journalism #1”

  1. hmmm...thanks 4 letting me know...

    ReplyDelete
  2. @Anonymous: yaaa, you're welcome :)

    @Anggafirdy: sudah maaas, monggo dibaca, hehe

    ReplyDelete