aku rindu Jogjaku yang dulu

ini sudah hari ke berapa ya dari letusan pertama merapi? (thinking) sepertinya sudah semingguan lebih..

warga yang meninggal sudah lebih dari 100 jiwa, warga yang sakit puluhan jiwa, sedangkan warga yang mengungsi sudah ratusan ribu jiwa. apa lagi selanjutnya? 

merapi sudah agak kalem akhir-akhir ini walaupun masih mencari sensasi dengan statusnya yang masih awas dan benar-benar misterius karena jenis letusannya tidak bisa ditebak. belum lagi tadi siang jam 14.06 ada gempa dengan kekuatan 5,6 SR dan lagi-lagi kami kira sumbernya dari merapi, tapi ternyata dari selatan sana (gempa tektonik), sama seperti tahun 2006 lalu.

hari ini aku jadi relawan, di Masjid Agung Sleman. pengungsi disana ada sekitar 1800an orang. tetapi dibagi di dua tempat, sebagian besar di Masjid Agung Sleman, sebagian lagi di Balatrans Sleman. 

membayangkan bakal seperti apa kalau aku menjadi mereka saja aku nggak sanggup. pakaian  memilih dari pakaian-pakaian 2nd yang diberikan para penyumbang, mandi antri, tidur bebarengan dengan orang-orang yang bahkan kita pun tidak mengenal mereka, makan dengan lauk dan sayur seadanya, dan masih banyak lagi.

how could you imagine that things?!

sisi positifnya sih pasti ada, kita jadi tau satu sama lain, yah paling tidak silaturahmi menjadi panjang, kita juga bisa belajar memanage emosi. tapi tetap saja itu hal yang terakhir yang akan kamu pikirkan saat kamu menjadi pengungsi.

anak-anak juga pasti punya rasa trauma. seperti tadi saat mengajak mereka bermain dan tiba saat menggambar. ada saja yang menggambar gunung dengan lahar merahnya dan yang paling membuat sedih, ada anak yang menggambar gunung dengan lahar beserta wedhus gembelnya lalu dibagian bawahnya ada orang meninggal karena itu :(


sayangnya gambar si adek yang itu udah dibawa kabur
punyaku! :D (ga penting)

lalu saat membantu di dapur umum. beberapa ibu asyik bercerita tentang pengalamannya saat merapi meletus dengan relawan lain sambil membungkus makanan dan yang paling aku ingat adalah ketika si ibu bilang seperti ini," Suarane ki koyo gludhug tapi neng njero lemah, Mbak." (suaranya itu seperti guntur tapi di dalam tanah, Mbak)

belum lagi si ibu yang di sampingku bilang kalau pas seperti itu listrik langsung mati. langsung deh merinding tingkat tinggi!! 

semoga tidak ada lagi korban jiwa, aku rindu Jogjaku yang dulu...

This entry was posted on Tuesday, November 9, 2010 and is filed under ,. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

4 Responses to “aku rindu Jogjaku yang dulu”

  1. "Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
    Masih seperti dulu
    Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
    Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
    Nikmati bersama suasana Jogja..."(Kla Project - Yogyakarta)
    mengutip sedikit lirik lagu dr Kla Project seakan membawa kita sedikit membayangkan kota Yogyakarta yg hangat, indah, dan ramah.
    kini melihat fakta yg ada seakan semua lara dan kesedihan menyelimuti kota yg dikenal dengan sebutan kota pelajar.
    Duka bangsa kita adalah duka kita semua...
    semoga bencana2 di Indonesia cepat mereda khususnya di Yogyakarta amin.
    nice post qis...:)

    ReplyDelete
  2. huaaa pengen Jogja kembali kayak dulu lagi, Ri :'(
    iyaaa, semua orang tergerak hatinya untuk membantu, semoga semuanya cepat selesai, amin :)
    thanks, Ri...

    ReplyDelete
  3. uh , iya sekarang jogja udah bedaaaaaaaaa :(
    udah mulai macet kaya jakarta , kelakuan anak2 remaja di jogja sekarang juga udah nggak keruan :(

    ReplyDelete
  4. iya han :( different pokoknyaaa, huhuhu..

    ReplyDelete